Monday, May 30, 2016

Mitra bina lingkungan


Pertanian di Jembrana, Bali
Saat ini saya bekerja sebagai seorang peneliti dan konsultan di bidang lingkungan dan green economy. Beberapa project yang saya terlibat adalah pendanaan program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim terkait pengembangan bisnis kakao dan bioenergi. Beberapa waktu lalu, salah satu tugas dari project tersebut adalah harus menemukan mitra untuk pendanaan project di atas, salah satu opsi terbaik yang muncul adalah microfinance dan CSR (Corporate Social Responsibility).
Akhirnya pilihan kita sampai pada BNI sebagai partner potensial dikarenakan kemudahan persyaratan, tingkat bunga yang lebih bersahabat dan jaminan dari pemerintah. Sebagai sebuah bank milik negara, BNI menjadi sumber pendanaan yang penting bagi program iklim. Dengan banyak cabang tersebar di seluruh Indonesia, BNI bisa membantu pemerintah saat ini yang tengah mengimplementasikan rencana aksi nasional adaptasi perubahan iklim (RAN-API) dan penurunan emisi gas rumah kaca (RAN-GRK). BNI menyediakan berbagai skema yang potensial mendukung aksi iklim mulai dari skala kecil hingga besar, juga untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Kredit yang disediakan dapat diakses oleh individual dan grup kolektif.

Friday, May 27, 2016

Menyikapi Skeptisisme Perubahan Iklim

Kekeringan di Jembrana, Bali

Beberapa waktu lalu saya membaca dua tulisan di sebuah media dengan judul “Apakah perubahan iklim benar-benar terjadi?” dan “Mitos Perubahan Iklim”. Hal ini menambah runyam skeptisisme terhadap perubahan iklim dan membuat saya terpanggil untuk menanggapi dan melengkapi diskursus tersebut.
Tulisan pertama mencoba menghadirkan sejumlah penelitian terkait perubahan iklim dan menyimpulkan bahwa perubahan iklim adalah siklus normal bagi bumi. “Tak Perlu Histeris, tidak perlu menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap perubahan iklim. Kita tidak bisa mencegah terjadinya perubahan iklim. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan itu. Ada ribuan probabilitas mengapa Tuhan menurunkan bencana pada suatu daerah. Ke semuanya bergantung pada individu yang mendiami daerah itu”, argumen ini menutup ulasan tulisan pertama.

Building the energy-agriculture nexus

Agriculture potential for energy resource

The Center of Excellence ( CoE ) was launched at the Bali Clean Energy Forum ( BCEF ) February. The CoE was established to facilitate with the integration of research and development, investment and deployment of clean energy and related technologies. CoE initiatives are planned to be developed all over Indonesia.

Beyond energy demand, Indonesia needs to address domestic and global challenges on renewable energy and climate change. The CoE links global targets to domestic priorities. The focus is on well deļ¬ned and broadly endorsed national priorities. The CoE wants to strengthen national capacity and create enabling environments. However, one important aspect is missing in the CoE mission stated at the BCEF, and that is about building the energy-agriculture nexus.

Tuesday, November 24, 2015

Dari Nelayan sampai Satelit

Pesisir Pantai Medewi, Jembrana, Bali

Hanya sekitar dua bulan lagi, ASEAN (Association of South East Asia Nations) Economic Community-AEC akan dimulai. Masyarakat ASEAN akan hidup lebih dekat satu sama lain dan saling bersaing lebih ketat di sisi lain.

Di waktu yang sama juga, UN (United Nations) akan memulai SDGs (Sustainable Development Goals) sebagai agenda pembangunan dunia bersama seluruh negara, menggantikan MDGs (Millenium Development Goals) yang berakhir. Pergantian tahun ini tampak sangat sibuk.