Thursday, September 15, 2016

Adaptation with respect to water resources




Java is being most heavily populated but having a small percentage of the Indonesia’s water, the island is predicted to face a clean water crisis. Java has less than 10 percent of the country's water, whereas more than 140 million people live on the island, nearly 60 percent of the country's population. The 2015 estimation by Robert Wahyudi Triweko, an expert on engineering and the management of water resources, disclosed that water demand on Java reached 164.672 million cubic meters per year, while the availability of water was only 30.569 million cubic meters per year, leaving a big deficit gap of 134.103 million cubic meters per year. Meanwhile, Kalimantan has 30 percent of Indonesia's water and only inhabited by six percent of Indonesia's population.

Water demand increase is triggered by urbanization. At the same time, it is also affected by climate change. It is started from sea level rise and increasing rainfall, as well as higher peak flood runoff which affected by urbanization. Those occurences increase flood volume in wider risk area. Finally, it becomes new problem which is increasing flood damage in more houses which builded due to urbanization. Therefore, improvements in water management and related infrastructure are important for solving the problems which threatening future economic success. 

Monday, August 29, 2016

Risma dan pembangunan-berkelanjutan



Kondisi yang membutuhkan pembangunan strategis

Seiring dengan mendekatnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017, perhatian publik yang digiring media terhadap topik ini pun semakin meningkat. Tak Cuma partai politik (parpol), aliansi masyarakat sipil beserta sejumlah organisasi pun turut serta meramaikan bahasan ini dengan mengusung sejumlah calon. Hal ini semakin menjadi-jadi setelah Basuki Tjahja Purnama (Ahok), calon incumbent, menetapkan untuk maju melalui jalur parpol. Keputusan ini membuat sejumlah pihak yang tidak menginginkan Ahok sebagai gubernur lagi, menjadi cemas dan langsung ribut memaksa calon lain yang tak kalah kuat, salah satunya adalah Tri Rismaharini (Risma), Walikota Surabaya saat ini yang berprestasi.

Sejumlah seruan dan bujukan untuk Risma menjadi calon gubernur Jakarta sontak menggeliat dimana-mana. Mulai dari masyarakat sipil, warga Kelurahan Kalianyar, Jakarta Barat dan warga Jatinegara Ilir beberapa waktu lalu menggelar deklarasi mendukung Risma menjadi calon gubernur (Cagub) DKI. Alasan warga tersebut adalah karena ingin Jakarta dipimpin figur yang lebih merakyat dan mengedepankan dialog. Kemudian disusul oleh pernyataan sejumlah Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) yang juga menyatakan Risma pantas didukung untuk maju menjadi Cagub DKI melawan Ahok.

Tak cuma itu, media massa pun turut berkonspirasi menggiring berita seolah-olah Risma akan maju jadi Cagub DKI. Sebuah pidato Risma di Surabaya yang menyatakan permintaan maaf akibat ia tidak menghadiri sebuah acara di Surabaya, di-framing menjadi permintaan maaf untuk maju jadi Cagub DKI. Tampaknya media pun sangat memanfaatkan topik ini untuk meningkatkan popularitas portalnya.

Kenapa 230 juta populasi hanya dapat satu emas?




Brasil akhirnya meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016 untuk cabang sepak bola putra setelah mengalahkan Jerman. Namun tim putri Jerman sebelumnya mengobati kekalahan ini, untuk kali pertama, mereka meraih medali emas Olimpiade seusai mengalahkan Swedia di final. Hal ini akhirnya membuat kedua negara masuk dalam daftar negara peraih medali emas untuk sepakbola di olimpiade.

Negara peraih gelar juara sepakbola olimpiade terbanyak bukanlah Brasil, Argentina, Jerman atau negara sepakbola yang lain, melainkan adalah Hungaria. Hungaria merupakan tim dengan raihan medali emas Olimpiade terbanyak, bersama Britania Raya dengan tiga gelar. Hungaria menjadi juara pada Helsinki 1952, Tokyo 1964, dan Mexico City 1968. Ada pula Rusia yang menjadi juara Olimpiade dua kali ketika masih bernama Uni Soviet. Mereka melakukannya pada 1956 dan 1968.
Sementara itu, Argentina menjadi negara tersukses di abad 21 dengan kesuksesannya meraih medai emas pada tahun 2004 dan 2008. Pada tahun 2008, di bawah komando Lionel Messi, pemain terbaik asal Barcelona tersebut sukses mempersembahkan medali emas bagi negaranya. Negara lain yang berhasil meraih medali emas di abad ini adalah Kamerun (2000), Meksiko (2012), dan terakhir, Brazil.

Yang menarik, faktanya sejak sistem timnas u-23 diperkenalkan di Atlanta 1992 hanya Spanyol satu-satunya negara Eropa yang berhasil menjadi kampiun. Selebihnya, medali emas dikuasai oleh Nigeria dan Kamerun dari CAF (Afrika), lalu Argentina dua kali dari CONMEBOL (Amerika Selatan), juga Meksiko dari CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah)

Lalu pertanyaan klasiknya, mengapa negara-negara tersebut yang juara? Dan jawaban klasiknya tentu karena negara tersebut punya banyak pemain berkualitas yang dapat bekerjasama dalam tim yang juga baik. Berikutnya bagaimana mereka bisa mendapatkan dan melahirkan pemain-pemain tersebut? Negara-negara di atas memilih para pemainnya, Brazil dari 200 juta penduduknya, Jerman dari 80 juta jiwa dan Hungaria dari 10 juta penduduknya di tahun 1968, terakhir kali mereka meraih emas sepakbola di olimpiade. Lalu Argentina, Kamerun dan Meksiko, masing-masing berturut dari 39 juta, 15 juta dan 120 juta jiwa, saat mereka meraih juara.

Dari fakta di atas, hanya Brazil negara yang memiliki jumlah populasi lebih dari 200 juta dan berhasil meraih emas sepakbola di Olimpiade, akhirnya di 2016. Lalu bagaimana dengan raihan Brazil di olahraga lain pada olimpiade saat ini? Per 22 Agustus lalu, dari 471 atletnya Brazil meraih 7 emas dan berada di posisi 13. Adalah deretan angka-angka yang menarik, statistik menunjukkan bahwa negara berpopulasi besar yang bahkan sudah mengirim ratusan atlet di olimpiade, namun masih sulit setidaknya berada dalam posisi sepuluh besar.

Investasi alternatif energi terbarukan


Biogas rumah di Bali


Beberapa waktu lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai bahwa menurunnya produksi energi fosil di Indonesia harus dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT). Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan konsumsi energi terbesar di dunia, mencapai 7 persen per tahun. Sementara itu, produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan rata-rata 2,1 persen per tahun periode 1992-2013. Dan kini laju penurunannya semakin tajam, sehingga mendorong pemerintah untuk mencari solusi energi.

Dengan kata lain, pemerintah harus segera mempercepat pembangunan dan mendukung investasi di sektor EBT. Misalnya, dengan memberikan insentif menarik, dukungan regulasi yang berpihak pada investasi tersebut, dan juga fasilitas fiskal memadai, mengingat nilai investasi sektor EBT sangat besar. Saat ini Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan mencapai 176,01 Gigawatt. Angka itu terdiri dari energi bayu/angin sebesar 950 Megawatt, tenaga surya 11 Gigawatt, tenaga air 75 Gigawatt, energi biomasa 32 Megawatt, biofuel 32 Megawatt, energi laut 60 Gigawatt dan panas bumi 29 Gigawatt.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan realisasi investasi di sektor EBT pada 2016 akan melebihi target US$ 1,37 miliar. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, meski terjadi perlambatan perekonomian global dan beberapa hambatan, iklim investasi sektor energi baru terbarukan di Indonesia tetap menarik. Sampai akhir Juni lalu, realisasi investasi di sektor ini mencapai US$ 867 juta atau 63,5%  dari target. Realisasi investasi di sektor panas bumi tercatat sebesar US$ 56 juta atau 58,3% dari target US$ 96 juta, bioenergi sebesar US$ 28,9 juta atau 93,2% dari target US$ 31 juta dan aneka energi baru terbarukan lainnya hanya US$ 180 ribu atau 18% dari target US$ 1 juta.

Pemerintah optimistis investasi sektor energi baru terbarukan ini dapat digenjot pada semester kedua 2016 ini. Di Sumatra Barat, sektor energi terbarukan menjadi incaran investor untuk menanamkan modalnya dikarenakan potensi sektor energi daerah itu yang terbilang besar. Gubernur setempat menyebutkan sejumlah perusahaan sudah menunjukkan minat untuk berinvestasi di daerah itu dengan melakukan eksplorasi. Namun, ketergantungan pada investor besar mungkin bukan solusi berkelanjutan bagi pengembangan EBT di Indonesia.